
Anak sekarang tumbuh bersama algoritma
Anak-anak hari ini tidak hanya tumbuh bersama keluarga dan sekolah. Mereka juga tumbuh bersama algoritma.
Apa yang mereka tonton, dengar, klik, sukai, dan ulangi akan memengaruhi konten berikutnya yang muncul di layar mereka. Media sosial, video pendek, game, dan platform digital tidak netral. Banyak platform memang dirancang untuk membuat pengguna betah selama mungkin.
Inilah tantangan baru dalam pola asuh digital.
Dulu, orang tua cukup bertanya, “Anak saya main dengan siapa?” Sekarang pertanyaannya bertambah: “Anak saya berinteraksi dengan konten apa? Algoritma apa yang sedang membentuk perhatiannya? Nilai apa yang ia serap dari internet?”
Larangan saja tidak cukup

Indonesia pada 2026 mulai menerapkan pembatasan akun anak di bawah 16 tahun pada sejumlah platform digital berisiko tinggi. Reuters melaporkan bahwa TikTok dan YouTube menonaktifkan sekitar 4,7 juta akun anak di bawah usia 16 tahun di Indonesia sebagai bagian dari penerapan pembatasan tersebut. Regulasi ini ditujukan untuk mengurangi risiko seperti cyberbullying, adiksi digital, dan paparan konten berbahaya.
Kebijakan seperti ini penting sebagai perlindungan struktural. Namun, di tingkat keluarga, larangan saja tidak cukup.
Anak-anak bisa menemukan cara lain untuk masuk ke platform. Mereka bisa memakai akun teman, akun orang tua, atau mengakses konten lewat jalur lain. Maka, pola asuh digital tidak boleh hanya bergantung pada blokir dan pembatasan.
Anak tetap perlu diajari cara berpikir, memilih, dan menjaga diri di dunia digital.
Literasi digital dimulai dari rumah

Literasi digital bukan hanya kemampuan memakai aplikasi. Anak-anak biasanya lebih cepat belajar fitur teknologi dibanding orang tua. Tetapi bisa memakai teknologi tidak sama dengan memahami teknologi.
Literasi digital berarti anak memahami bahwa:
- tidak semua yang viral itu benar;
- tidak semua komentar perlu ditanggapi;
- tidak semua orang di internet punya niat baik;
- foto dan data pribadi harus dijaga;
- konten bisa memengaruhi emosi dan cara berpikir;
- AI bisa membantu, tetapi juga bisa menghasilkan informasi yang salah.
UNICEF dalam laporan Children in a Digital World menekankan bahwa teknologi digital membawa peluang sekaligus risiko bagi anak. Karena itu, perlindungan anak di dunia digital perlu dilakukan bersama oleh pemerintah, industri teknologi, dan keluarga.
Artinya, orang tua tidak perlu anti-teknologi. Tetapi orang tua juga tidak boleh terlalu pasrah.
Anak perlu diajari bertanya, bukan hanya dilarang

Di era AI dan media sosial, keterampilan penting bukan sekadar patuh. Anak perlu belajar bertanya.
Saat anak melihat konten viral, orang tua bisa melatih pertanyaan seperti:
“Siapa yang membuat konten ini?”
“Apa tujuannya?”
“Apakah ini fakta, opini, iklan, atau bercanda?”
“Apakah ada orang yang dirugikan dari konten ini?”
“Kenapa konten seperti ini bikin orang ingin terus menonton?”
Pertanyaan seperti ini membantu anak membangun jarak dari konten. Ia tidak langsung percaya, tidak langsung meniru, dan tidak langsung membandingkan dirinya dengan apa yang ia lihat.
Inilah inti pola asuh digital: bukan membuat anak takut pada teknologi, tetapi membuat anak lebih sadar saat menggunakannya.
AI juga perlu masuk obrolan keluarga

Sekarang anak bisa memakai AI untuk mencari jawaban, membuat gambar, merangkum tugas, menerjemahkan teks, bahkan menulis esai. Ini bisa membantu proses belajar. Tetapi juga bisa menimbulkan masalah jika anak tidak memahami batasnya.
Orang tua bisa menjelaskan bahwa AI adalah alat bantu, bukan pengganti berpikir.
Misalnya, anak boleh memakai AI untuk mencari ide, memahami konsep sulit, atau latihan membuat rangkuman. Tetapi anak tetap harus memeriksa kebenaran informasi, menulis dengan pemahamannya sendiri, dan tidak menyerahkan seluruh tugas kepada mesin.
Ajak anak memahami tiga prinsip sederhana:
Pertama, AI bisa salah.
Kedua, AI tidak selalu tahu konteks pribadi.
Ketiga, memakai AI tanpa berpikir membuat kemampuan sendiri tidak berkembang.
Dengan cara ini, anak tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi belajar menjadi pengguna yang bertanggung jawab.
Privasi anak adalah bagian dari pola asuh

Banyak orang tua sadar bahaya anak membagikan data pribadi. Tetapi kadang orang tua sendiri tanpa sadar terlalu sering membagikan foto, lokasi, sekolah, atau aktivitas anak di media sosial.
Ini dikenal dengan istilah sharenting, yaitu kebiasaan orang tua membagikan kehidupan anak secara online.
Tidak semua berbagi foto anak itu salah. Tetapi orang tua perlu bertanya: apakah anak nyaman? Apakah informasi ini terlalu pribadi? Apakah foto ini bisa mempermalukan anak di masa depan? Apakah lokasi dan identitas anak terlalu mudah dikenali?
Pola asuh digital bukan hanya mengatur perilaku anak di internet. Orang tua juga perlu memberi contoh bagaimana menjaga privasi.
Anak akan belajar bahwa data pribadi itu berharga jika orang tua juga memperlakukannya sebagai sesuatu yang berharga.
Buat kontrak digital keluarga

Salah satu cara praktis adalah membuat kontrak digital keluarga. Tidak perlu rumit. Isinya bisa berupa kesepakatan sederhana:
- platform apa yang boleh digunakan
- kapan gadget boleh dipakai
- konten apa yang tidak boleh dibuka
- apa yang harus dilakukan jika menerima pesan aneh
- kapan anak harus melapor kepada orang tua
- aturan berbagi foto, lokasi, dan informasi pribadi
- konsekuensi jika aturan dilanggar
Kontrak ini sebaiknya tidak dibuat sepihak. Ajak anak berdiskusi. Dengarkan pendapatnya. Jelaskan alasannya.
Tujuannya bukan membuat anak merasa diawasi terus-menerus, tetapi membuat anak mengerti bahwa dunia digital punya risiko nyata.
Bangun kepercayaan sebelum terjadi masalah

Banyak anak tidak bercerita kepada orang tua ketika mengalami masalah online karena takut dimarahi. Misalnya, anak menerima pesan tidak pantas, melihat konten menakutkan, atau menjadi korban komentar kasar. Kalau respons pertama orang tua selalu marah, anak akan belajar menyembunyikan masalah.
Maka, penting untuk membangun kalimat aman seperti:
“Kalau kamu melihat sesuatu yang bikin takut atau bingung, kamu bisa cerita. Mama/Papa tidak akan langsung marah. Kita selesaikan bareng.”
Kalimat seperti ini sederhana, tetapi sangat kuat.
Anak perlu tahu bahwa orang tua adalah tempat kembali, bukan hanya sumber hukuman.
Penutup
Pola asuh digital bukan tentang menjadi orang tua yang paling jago teknologi. Tidak semua orang tua harus paham semua aplikasi, tren, atau fitur terbaru.
Yang paling penting adalah hadir, bertanya, mendampingi, dan membangun aturan yang masuk akal.
Anak-anak tidak cukup hanya diberi akses internet. Mereka perlu diberi kompas.
Di era AI dan media sosial, tugas orang tua bukan sekadar menjauhkan anak dari risiko, tetapi membantu anak menjadi manusia yang lebih sadar, kritis, empatik, dan bertanggung jawab saat berada di dunia digital.
Karena pada akhirnya, teknologi akan terus berubah. Tetapi kebutuhan anak untuk merasa aman, didengar, dan dibimbing tetap sama.
Follow:
